Menelaah defenisi keikhlasan, saya teringat kisah yang disampaikan salah seorang assatidz mahad. Beliau bercerita di sela-sela materi aqidah level 6, alkisah ada 2 orang haji yang termasuk tetua di sebuah kampung. Pak Haji pertama adalah seorang yang mempunyai kekayaan yang berlimpah, tapi sayangnya setiap kali ada yang meminta sumbangan untuk orang miskin, perbaikan jalan, pembangunan mesjid, beliau tak segan-segan untuk menolaknya. Berbeda dengan seorang lagi, Pak Haji yang kedua ini, tak pernah putus-putusnya memberikan sumbangan tanpa banyak bicara. Memberi dan memberi, padahal keadaan keuangan hidupnya jauh lebih rendah dibanding dengan Pak Haji yang pertama. Maka tak perlu kita dipikir panjang, bisa dikatakan bahwa semua orang akan berpendapat yang sama, bahwa Pak Haji yang satu adalah seorang yang kikir dan yang satunya pemurah.
Keadaan berubah, tak beberapa lama setelah Pak Haji yang pertama berpulang ke Rahmatullah. Semakin hari, asupan dana untuk perbaikan dan kesejahteraan kampung tempat mereka tinggal semakin sedikit saja, bahkan bisa dibilang terhenti sama sekali. Seseorang yang dulunya sangat dermawan, mulai menarik partisipasinya dan berkurang setiap kalinya. Orang-orang kampung pun dibuat gelisah dan bertanya-tanya, sampai akhirnya terungkaplah rahasia, bahwasannya semasa hidup, Pak Haji pertamalah yang selalu memberikan asupan/sumbangan dana yang diminta dari warga akan tetapi disampaikan oleh Haji yang kedua. Begitu setiap kalinya, saat beliau tahu ada kekurangan dana, maka serta merta diberikannya uang ke Haji kedua untuk diserahkan ke warga.
Mari kita tinjau cerita tersebut, keduanya yang sama-sama diberi ujian cinta dari Allah, yaitu ujian keikhlasan. Seorang diberikan ujian kekayaan, dan dia berusaha sekeras mungkin untuk menjaga keikhlasan hati untuk tidak riya’ saat ada kesempatan untuk memberi, di sisi lain dia menerima dengan ikhlas atas pandangan masyarakat yang miring mengenai dirinya. Sedangkan seorang lagi, diberi ujian cinta untuk menerima keadaan kehidupannya yang serba kekurangan secara ikhlas, di sisi lain dia harus menjaga keikhlasan hati saat menyampaikan amanah bantuan tersebut.
Tentu saja membicarakan ikhlas tidak terlepas dari amalan untuk memberi saja, melainkan juga keikhlasan dalam hal menerima. Namun saat ini mari kita berbicara mengenai makna keikhlasan dalam berbagi. Untuk saya sendiri memahami makna ikhlas terasa lebih mudah, dibanding menerapkan dan menjaga keikhlasan dalam kehidupan sehari-hari. Pun setelah saya mengetahui bahwasannya ikhlas adalah inti dan roh dari ibadah, dimana sebuah keikhlasan dan niat yang luruslah yang membuat semua hal yang kita lakukan akan diterima oleh Allah. Bahkan untuk secuil senyum yang kita lakukan dengan diniatkan karena Allah pun, akan berharga di hadapanNya. Berusaha memahami dan berhati-hati untuk berucap kepada orang tua agar tidak menyakiti hati mereka juga akan dihargai oleh Allah.
Memaknai ikhlas tidaklah semata-mata saklek, lurus dan kaku secara kontekstual. Karena sesungguhnya yang bisa memaknai ikhlas dalam tiap amalan adalah diri kita sendiri. Kita sendirilah yang bisa mengarahkan hati, meluruskan niat, dan menjalankan dengan tidak keluar dari koridor syariat.
Yang lebih baik amalnya maksudnya yang paling ikhlas dan yang paling benar. Dikata orang kepada Fudhail bin 'Iyadh rahimahullah yang menyebutkan ini: apa yang dimaksud yang paling ikhlas dan paling benar?. Ia menjawab: sesungguhnya amal ibadah, jika ia benar dan tidak ikhlas, niscaya tidak akan diterima. Dan jika tidak benar dan ia ikhlas, juga tidak akan diterima. Sehingga amal tersebut ikhlas dan benar. Dan alkhalis (orang yang ikhlas) adalah yang beribadah karena Allah SWT, bukan karena yang lain, dan yang benar adalah yang sesuai dengan sunnah.***
Melandasi sebuah ibadah dengan ikhlas adalah sebuah tantangan. Di mana dengan berusaha untuk ikhlas maka apa yang kita lakukan adalah semata-mata dilakukan karena Allah SWT semata. Berusaha untuk menjaga perbuatannya untuk tidak di pandang oleh orang lain. Pun jika kondisi mengharuskan untuk dipandang pun, adalah sebuah tantangan bagi kita agar selalu menjaga hati untuk tidak kemudian berbangga dengan pandangan/pujian tersebut.
Rasulullah saw. pernah bercerita, "Manusia yang mula-mula akan ditanya di hari kiamat adalah tiga orang; pertama adalah orang yang diberi Allah ilmu pengetahuan. Pada waktu itu Allah Azza wa Jalla bertanya, "Apakah yang sudah kamu perbuat dengan ilmu yang engkau ketahui itu?"
Ia menjawab, "Ya Rabbi, dengan ilmu hamba itu, hamba bangun di tengah malam (untuk salat malam), lalu hamba berjaga di tepi siang (untuk mengajarkan ilmu kepada orang yang memerlukannya)". Allah berfirman, "Engkau dusta!" Malaikat pun berkata, "Engkau dusta! Engkau lakukan semua itu hanyalah supaya engkau disebut sebagai orang alim". Memang yang demikianlah perkataan orang terhadap dirinya.
Orang kedua adalah seorang laki-laki yang Allah beri harta kekayaan, maka Allah bertanya, "Engkau telah kami beri amanah harta, apakah yang sudah engkau perbuat dengan harta itu?" Dia menjawab, "Ya Rabbi, harta benda itu semuanya telah hamba sedekahkan pada tengah malam dan siang hari". Allah berfirman, "Engkau dusta!" Malaikat pun berkata, "Engkau dusta! Engkau lakukan semua itu hanyalah supaya engkau dikatakan sebagai seorang dermawan". Memang yang demikianlah yang dikatakan orang terhadap dirinya.
Orang ketiga adalah laki-laki yang terbunuh dalam perang mempertahankan agama Allah, maka Allah bertanya, "Apakah yang telah engkau kerjakan?" Ia menjawab, "Ya Rabbi, Engkau suruh hamba berjihad, maka pergilah hamba ke medan perang, lalu hamba mati terbunuh". Allah pun berkata, "Engkau dusta!" Dan malaikat pun berkata, "Engkau dusta! Engkau lakukan semua itu hanyalah supaya dikatakan orang bahwa engkau gagah berani". Memang yang demikianlah perkataan orang terhadap dirinya.***
Wallahualam .. sungguh tipis batasan antara ikhlas dan riya’, batas yang setiap saat mengharuskan kita untuk terus menerus memperbaharui niat dan beristigfar. Karena sesungguhnya tiap amal perbuatan adalah tergantung pada niatnya. Untuk saat ini begitu banyak kesempatan dan waktu yang diberikan oleh Allah, kepada kita untuk berbagi dan belajar ikhlas. Bukankah sebuah kenikmatan jika kita dapat imsak (menahan diri) dari nafsu yang bersifat duniawi, sehingga kita dapat menjaga hati untuk selalu tetap ikhlas dan juga menahan diri untuk berbangga di atas pujian orang-orang sekitar. Semoga kita termasuk orang yang selalu dapat berbuat secara ikhlas, berniat lurus dan beramal secara tulus. Amin.












0 komentar:
Posting Komentar